Banyak orang beranggapan bahwa memasak sendiri selalu identik dengan makanan yang lebih sehat dan aman. Nyatanya, tidak selalu demikian. Beberapa kasus gangguan pencernaan justru muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan buatan sendiri. Masalahnya bukan pada bahan yang digunakan, melainkan pada cara mengolah, menyimpan, dan menjaga kebersihan makanan tersebut.
Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2020, sekitar 600 juta orang atau hampir 1 dari 10 orang di dunia mengalami keracunan makanan setiap tahun1. Menariknya, sebagian besar kasus tidak terjadi di restoran atau industri makanan besar, melainkan di rumah tangga.2 Artinya, dapur pribadi pun bisa jadi sumber risiko kalau prinsip keamanan pangan tidak diterapkan dengan benar.
Untuk mengurangi risiko tersebut, WHO memperkenalkan konsep “Five Keys to Safer Food” atau lima prinsip dasar keamanan pangan yang dapat diterapkan oleh siapa pun, di mana pun, termasuk di dapur kos atau rumah sederhana.3 Lima kunci ini terdengar sepele, tapi sering kali terlewat dalam rutinitas sehari-hari.
1. Jaga Kebersihan

Sumber Gambar: freepik.com
Kita sering merasa dapur sudah bersih. Padahal belum tentu. Kadang lap yang dipakai untuk meja, juga dipakai untuk ngeringin piring, bahkan tangan. Di sinilah masalah dimulai. Kebersihan adalah fondasi utama keamanan pangan. Permukaan meja, alat masak, bahkan tangan manusia bisa jadi media perpindahan mikroorganisme berbahaya seperti Salmonella dan E. coli. WHO menekankan pentingnya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum, selama, dan setelah menyiapkan makanan. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri dapat bertahan di kain lap atau spons dapur selama beberapa hari jika tidak diganti secara rutin.4 Praktik sederhana yang bisa dilakukan adalah cuci tangan minimal 20 detik, ganti lap dapur tiap minggu, dan bersihkan area yang sering disentuh seperti gagang kulkas atau kompor.
2. Pisahkan Makanan Mentah dan Matang Pernah
Pernah potong ayam mentah, lalu lanjut iris sayur di talenan yang sama? Nah, itu contoh klasik kontaminasi silang. Kontaminasi silang adalah perpindahan mikroorganisme dari bahan mentah ke makanan siap santap. Kasus keracunan makanan di rumah tangga banyak disebabkan oleh kontaminasi silang.5 Langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menghindari kontaminasi silang adalah gunakan talenan dan pisau berbeda untuk bahan mentah dan matang, simpan bahan mentah di rak bawah kulkas, dan selalu cuci tangan sebelum berpindah aktivitas.
3. Masak dengan Suhu yang Tepat

Banyak orang mengira kalau makanan sudah berubah warna, berarti sudah matang dan aman. Padahal, bakteri seperti Campylobacter dan Salmonella hanya mati pada suhu minimal 70°C selama minimal 2 menit.6 WHO menyebut bahwa memasak dengan suhu tidak memadai menjadi penyebab utama foodborne disease, terutama di daerah tropis seperti Indonesia, dimana suhu lingkungan yang hangat mempercepat pertumbuhan mikroba.7Pastikan daging unggas dan produk olahan matang sempurna tanpa bagian merah muda, sementara daging utuh seperti steak tetap aman dikonsumsi bila bagian luarnya matang dan suhu dalamnya mencapai sekitar 63–70°C dan dibiarkan selama 3 menit sebelum dikonsumsi. Hindari konsumsi telur mentah atau setengah matang, dan gunakan termometer makanan bila tersedia untuk memastikan suhu masak sudah mencapai zona aman.
4. Simpan Makanan pada Suhu Aman

Siapa yang nggak punya “museum makanan” di kulkas? Sisa lauk dari dua hari lalu, nasi setengah porsi, bahkan potongan buah yang udah berubah warna tapi masih “sayang dibuang.” Padahal, makanan yang dibiarkan di suhu ruang lebih dari empat jam bisa jadi tempat berkembang biak bagi bakteri. WHO merekomendasikan suhu penyimpanan di bawah 5°C untuk makanan dingin dan di atas 60°C untuk makanan panas.7 Langkah yang bisa dilakukan adalah dinginkan makanan maksimal dua jam setelah dimasak, gunakan wadah tertutup rapat (airtight container), dan beri label tanggal simpan pada bagian luar wadah atau tutupnya agar tidak lupa.
5. Gunakan Air dan Bahan Baku yang Aman

Air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari kuman. Begitu juga bahan makanan yang tampak segar bisa saja tercemar. Studi Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat bahwa sekitar 40% kasus diare rumah tangga di perkotaan disebabkan oleh air dan bahan pangan yang tidak higienis.8,9 Gunakan air bersih untuk mencuci bahan makanan, perhatikan tanggal kedaluwarsa, dan simpan bahan di tempat yang bersih serta kering.
Menjaga keamanan pangan bukan tanggung jawab industri besar saja, tapi bagian dari gaya hidup sehat setiap individu. Bagi dewasa muda yang hidup mandiri, memahami dan menerapkan lima kunci keamanan pangan berarti melindungi diri dari risiko yang bisa dicegah. Kuncinya bukan alat mahal atau dapur modern, tapi kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Mencuci tangan, memisahkan bahan mentah dan matang, serta menyimpan makanan dengan benar adalah langkah sederhana dengan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Jadi, sebelum menyalahkan perut yang “nggak kuat,” coba tanya lagi: apakah cara kita memperlakukan makanan sudah benar? Karena bisa jadi, bukan makanannya yang salah melainkan caranya.
Penulis: Ainun Permata Shanie (Mahasiswa Program Studi Profesi Dietisien)
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Food safety – Key facts [Internet]. World Health Organization. 2024 [cited 2025 Nov 5]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-`
- Yemane B, Tamene A. Understanding Domestic Food Safety: An Investigation into SelfReported Food Safety Practice and Associated Factors in Southern Ethiopian Households. Environ Health Insights. 2022;16.
- World Health Organization. Five Keys to Safer Food Manual. Geneva: World Health Organization; 2006.
- Møretrø T, Ferreira VB, Moen B, Almli VL, Teixeira P, Kasbo IM, et al. Bacterial levels and diversity in kitchen sponges and dishwashing brushes used by consumers. J Appl Microbiol. 2022 Sep 1;133(3):1378–91.
- Langiano E, Ferrara M, Lanni L, Viscardi V, Abbatecola AM, De Vito E. Food Safety at Home: Knowledge and Practices of Consumers. Journal of Public Health (Germany). 2012;20(1):47–57.
- Qu Z, Shah DH, Sablani SS, Ross CF, Sankaran S, Tang J. Thermal inactivation kinetics of Salmonella and Campylobacter in chicken livers. Poult Sci. 2024 Aug 1;103(8).
- World Health Organization. Public Health Advice on Food Safety During Summer [Internet]. World Health Organization. 2023 [cited 2025 Nov 5]. Available from: https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/public-health-advice-on-food-safetyduring-summer
- Susanti IM. Info Datin: Air dan Kesehatan. 2020.
- Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2018 Nasional.

