Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI) sering dijadikan tolok ukur obesitas, namun semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa Lingkar Pinggang (LP) dapat mengukur seberapa besar lemak visceral yang ada di dalam perut dan dapat menjadi indikatpr risiko yang lebih spesifik terhadap penyakit metabolic dan kematian. Pada artikel ini akan membahas terkait perbedaan obesitas umum dengan obesitas sentral, hubungan lingkar pinggang dengan obesitas sentral serta bukti ilmiah terkini tentang lingkar pinggang dan risikonya, cut off lingkar pinggang, serta implikasi klinis dan cara pencegahannya. Yuk mari simak.
APA ITU OBESITAS?
Menurut Word Health Organization obesitas merupakan kondisi medis kronis di mana seseorang memiliki kelebihan lemak tubuh yang berlebihan dan tidak sehat, yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan masalah kesehatan.(1) Secara keseluruhan, angka kejadian obesitas di dunia telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, tercatat bahwa 23,4% orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Khusunya untuk data prevalensi obesitas sentral ditahun 2023 telah mencapai 36,8% yang semula pada tahun 2018 masih mencapai 31%.(2)

Sumber gambar: freepik.com
APA PERBEDAAN ANTARA OBESITAS UMUM (GENERAL OBESITY) VS OBESITAS SENTRAL (CENTRAL OBESITY)?
- Obesitas Umum (General Obesitas)
Merupakan obesitas dengan kelebihan lemk tubuh secara yotal yang biasanya diukur dengan IMT/BMI ≥ 30 kg/m². Menunjukkan berat badan berlebih terhadap tinggi badan, hanya memfokuskan berapa banyak lemak pada tubuh tetapi tidak membedakan distribusi lemak.(1)
- Obesitas Sentral (Central Obesity)
Merupakan obesitas dengan penumpukan lemak berlebih di area perut/abdominal, terutama lemak visceral di sekitar organ dalam.(3) Diukur dengan lingkar pinggang, lingkar pinggul, atau waist-to-height ratio (WHtR). Pada obesitas ini berfokus pada daerah-daerah penumpukan pada tubuh.
APA ITU LINGKAR PINGGANG? BERAPA CUT OFF NORMALNYA?
Lingkar pinggang adalah ukuran keliling tubuh pada daerah perut (abdomen), tepatnya di tengah antara tulang rusuk bagian bawah (costae) dan tulang panggul bagian atas (crista iliaka).(5) Ukuran ini biasanya diambil dengan pita pengukur (meteran) pada posisi:
- Subjek berdiri tegak
- Perut rileks (tidak ditahan atau ditarik ke dalam)
- Setelah ekspirasi normal (menghembuskan napas pelan)
Lingkar pinggang (LP) dapat menjadi indikator distribusi lemak abdominal/visceral (lemak di sekitar organ dalam).(4) Dan dapat digunakan untuk menilai obesitas sentral, yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit metabolik (diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dll).

Sumber gambar: Kemenkes RI
Batas normal lingkar pinggang laki-laki asia tidak lebih dari sama dengan 90 cm dan untuk perempuan asia tidak lebih sama dengan 80 cm. Hasil pengukuran melewati angka tersebut, artinya seseorang masuk kategori obesitas sentral yang lebih berisiko dibanding obesitas biasa, karena lemak menumpuk di perut (visceral fat).(9)
APA HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG (LP) DENGAN OBESITAS SENTRAL DAN PREDIKTOR RESIKO METABOLIK?
Lingkar pinggang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan obesitas, terutama obesitas sentral, berikut merupakan penjelasannya:
1. Indikator Lemak Abdominal
Lingkar pinggang mencerminkan jumlah lemak visceral (lemak di sekitar organ dalam perut). Lemak visceral lebih berbahaya dibandingkan lemak subkutan karena berhubungan dengan gangguan metabolik. Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa lingkar perut (abdominal circumference) pada laki-laki dan lingkar pinggang pada perempuan merupakan indikator terbaik untuk “fat obesity” (obesitas berdasarkan persentase lemak tubuh).(6)
2. Prediktor Resiko Penyakit
Lingkar pinggang yang besar, meskipun IMT (Indeks Massa Tubuh) normal, tetap bisa menunjukkan adanya obesitas sentral. Obesitas sentral berhubungan dengan peningakatan risiko penyakit metabolic seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, jantung korner dan sindrom metabolic. Terdapat beberapa penelitian yang memabahas hubungan lingkar pinggang (waist circumference/WC) atau indikator terkait dengan obesitas / risiko metabolik. Pertama yaitu pada penelitian sebelumnya dimana membahas bahwa adanya lemak visceral yang memicu inflamasi, resistensi insulin, dyslipidemia yang dapat memunculkan faktor risiko untuk penyakit jantung, diabetes melitus type 2 dan stroke.(7) Kedua yaitu Sebuah studi kohort menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10 cm lingkar pinggang dikaitkan dengan 8% peningkatan risiko kematian seluruh penyebab (all-cause mortality).(8)
SUMBER ZAT GIZI APA YANG DAPAT MEMBANTU MENURUNKAN ATAU MENGONTROL LINGKAR PINGGANG?
Terdapat beberapa sumber zat gizi yang dapat membantu menurunkan atau mengontrol lingkar pinggang, berikut merupakan sumbernya:
- Serat (Dietary Fiber)
Sumber: sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh.
Mekanisme: meningkatkan rasa kenyang, memperlambat penyerapan glukosa, menurunkan lemak visceral.
Jurnal menunjukkan peningkatan 10 g serat/hari dapat menurunkan lingkar pinggang dalam jangka panjang.(10) - Protein
Sumber: tempe, tahu, kacang-kacangan, ikan, ayam tanpa kulit, telur.
Mekanisme: meningkatkan metabolisme, memperbaiki massa otot (membakar lemak lebih banyak), mengurangi lemak perut.(11) - Vitamin D
Sumber: ikan berlemak, susu fortifikasi, paparan sinar matahari.
Kekurangan vitamin D sering dikaitkan dengan obesitas sentral. Asupan cukup membantu metabolisme lemak & glukosa.(12) - Kalsium
Sumber: susu rendah lemak, yoghurt, keju, sayuran hijau.
Beberapa studi menunjukkan kalsium dapat membantu mengontrol akumulasi lemak tubuh. Dimana asupan kalsium dilaporkan meningkatkan penurunan berat badan dengan penurunan lemak tubuh yang lebih signifikan. Terdapat temuan yang berbeda mengenai efek asupan kalsium terhadap perubahan longitudinal massa lemak total dan deposisi lemak sentral.(15) - Antioksidan (Vitamin C, Vitamin E, Polifenol)
− Sumber: buah-buahan (jeruk, beri, kiwi), teh hijau, cokelat hitam.
− Membantu mengurangi stres oksidatif yang berhubungan dengan akumulasi lemak visceral.(13)
APA SAJA IMPLIKASI KLINISNYA?
Dari bukti-terkini, beberapa implikasi klinis dan langkah praktis bisa diambil:
- Perlu pengukuran lingkar pinggang dalam skrining kesehatan rutin
Selain mengukur BMI, klinik dan fasilitas kesehatan sebaiknya mengukur lingkar pinggang sebagai bagian dari pemeriksaan fisik untuk mendeteksi obesitas sentra - Aktivitas fisik
Terbukti sebagai faktor protektif. Orang dengan aktivitas fisik teratur memiliki lingkar pinggang yang lebih kecil dan risiko obesitas sentral yang lebih rendah.14 - Fokus intervensi gaya hidup
Strategi seperti diet sehat (kurangi gula, lemak jenuh, fast food), perbanyak serat & protein, serta aktivitas fisik (termasuk latihan kekuatan) adalah kunci dalam menurunkan lemak visceral dan lingkar pinggang.
BAGAIMANA TIPS MENURUNKAN LINGKAR PINGGANG YANG BERLEBIH?

Sumber gambar: Kemenkes RI
Terdapat beberapa tips yang dapat diberikan bagi individu dengan obesitas sentral yang dirangkum dalam singkatan PINGGANG:
- P = Pola Makan Sehat (kurangi gula, gorengan, fast food, perbanyak serat dan protein)
- I = Istirahat Cukup (7-9 jam/hari)
- N = Nafsu Makan Terkontrol (kurangi ngemil tinggi lemak)
- G= Gizi Seimbang (pilih makanan yang bergizi sesuai kebutuhan sehari)
- G = Gaya Hidup Sehat (kurangi rokok, alkohol dan makanan manis)
- A = Atur Stres (aktivitas yang bikin senang, relaksasi)
- N = Ngukur Lingkar Pinggang Rutin (pantau progres setiap 2-4 minggu)
- G = Gerak Aktif (Olah raga rutin seperti aerobic)
Penulis: Chiara Elvira Salsabilah (Mahasiswa Program Studi Profesi Dietisien)
DAFTAR PUSTAKA
- World Health Organization. Obesity And Overweight. Geneva: World Health Organization; 2021
- Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Dalam Angka. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Ri; 2023.
- Federation ID. The IDF consensus worldwide definition of the metabolic syndrome. IDF Communications. 2006:1-24.
- Indraswari, D.A., Al Ahmadi, H.U., Sari, D.W.A., Jordan, T., Puruhito, B., Basyar, E., Bakri, S. and Muniroh, M., 2021. Body mass index and waist circumference are associated with visceral fats measured by bioelectrical impedance analysis in adolescents. Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal), 10(5), pp.351-356.
- Ma WY, Yang CY, Shih SR, Hsieh HJ, Hung CS, Chiu FC, Lin MS, Liu PH, Hua CH, Hsein YC, Chuang LM. Measurement of waist circumference: midabdominal or iliac crest?. Diabetes care. 2013 Jun 1;36(6):1660-6.
- Hastuti J, Rahmawati NT. Anthropometric markers for fat obesity in Indonesian children aged 7 to 12 years in Yogyakarta Province, Indonesia. Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition). 2024;12(2):108-14.
- Zhang C, Rexrode KM, Van Dam RM, Li TY, Hu FB. Abdominal obesity and the risk of all-cause, cardiovascular, and cancer mortality: sixteen years of follow-up in US women. Circulation. 2008 Apr 1;117(13):1658-67.
- Su Y, Sun J, Zhou Y, Sun W. The Relationship of Waist Circumference with the Morbidity of Cardiovascular Diseases and All-Cause Mortality in Metabolically Healthy Individuals: A Population-Based Cohort Study. Reviews in Cardiovascular Medicine. 2024 Jun 13;25(6):212.
- Makimoto H. Waist Circumference as a Superior Predictor of Atrial Fibrillation Compared to Body Mass Index. JACC: Asia. 2025 Jan 1;5(1_Part_2):140-2.
- Du H, Boshuizen HC, Forouhi NG, Wareham NJ, Halkjær J, Tjønneland A, Overvad K, Jakobsen MU, Boeing H, Buijsse B, Masala G. Dietary fiber and subsequent changes in body weight and waist circumference in European men and women. The American journal of clinical nutrition. 2010 Feb 1;91(2):329-36.
- Yao Y, Xing X, Lü B, Min J. Relationship between protein intake and body mass index and waist circumference in Chinese adults using quantile regression analysis. Wei Sheng yan jiu= Journal of Hygiene Research. 2017 Sep 1;46(5):818-23.
- Liu B, Fan D, Yin F. The relationship between vitamin D status and visceral fat accumulation in males with type 2 diabetes. Journal of nutritional science and vitaminology. 2020 Oct 31;66(5):396-401.
- Roy P, Tomassoni D, Traini E, Martinelli I, Micioni Di Bonaventura MV, Cifani C, Amenta F, Tayebati SK. Natural antioxidant application on fat accumulation: preclinical evidence. Antioxidants. 2021 May 27;10(6):858.
- Mulia EP, Fauzia KA, Atika A. Abdominal obesity is associated with physical activity index in Indonesian middle-aged adult rural population: a cross-sectional study. Indian Journal of Community Medicine. 2021 Apr 1;46(2):317-20.
- Bush NC, Alvarez JA, Choquette SS, Hunter GR, Oster RA, Darnell BE, Gower BA. Dietary Calcium Intake Is Associated With Less Gain in Intra‐Abdominal Adipose Tissue Over 1 Year. Obesity. 2010 Nov;18(11):2101-4.